Semangat Pengampunan

Semangat Pengampunan

Semangat Pengampunan (Mat 5:38-48)

Dalam tradisi hidup bakti, ada kesempatan saling mengoreksi atau menasehati satu sama lain dalam komunitas. Dalam suasana doa dan terang Roh Kudus, dengan jujur dan rendah hati masing-masing anggota dalam biara menyampaikan hal-hal yang perlu untuk diperbaiki dan dipertahankan. Tujuannya jelas, yaitu untuk saling mendukung dalam mencapai kekudusan, bukan untuk saling menjatuhkan.

Hal yang sama sebenarnya sudah ditegaskan dalam kitab Imamat dalam bacaan hari ini. “Janganlah Engkau membenci saudaramu,di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur dan mendatangkan dosa.” (Im 19:17) Menegur dengan motivasi menguduskan membutuhkan kerendahan hati dari diri kita. Biasanya kalau kita mengalami persoalan dengan saudara kita, yang ada dalam diri kita adalah benci dan kemarahan. Tuntutan pengudusan dalam konflik, pertentangan dan percekcokan tidak lain adalah semangat pengampunan dan kerendahan hati. Hanya dengan semangat pengampunan dan rendah hati kita akan memiliki rasa cinta persaudaraan.

Bahkan menurut Yesus tidak sekadar mewujudkan belas kasih kepada mereka yang menyakiti kita, tetapi merupakan keutamaan hidup Kristiani. Bagi Yesus ciri khas dan kualitas kemuridan yang sejati harus sampai pada tingkat keutamaan belas kasih, yaitu memberikan dengan rela; bukan karena kewajiban melainkan karena kemurahan hati kita.