Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Makna di Balik Betlehem

Gereja Katolik selalu menyimpan makna yang indah di setiap tradisi gerejawinya, salah satunya adalah tentang inkarnasi Kristus yang berkenan lahir dari seorang perawan di Betlehem. Mengapa Kristus lahir di Betlehem? Mengapa tidak di Nazaret tempat ayah dan ibunya tinggal?

Ada 3 kata kunci yang memiliki makna penting dalam peristiwa kelahiran ini. Pertama tentang Betlehem, yang kedua tentang palungan dan yang ketiga adalah tentang kain lampin. Peristiwa kelahiran Yesus di Betlehem ini sejatinya sudah diramalkan oleh Nabi Mikha yang tertulis dalam Perjanjian Lama; “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaanya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Jadi, apa yang dilakukan oleh Yesus, Maria dan Yosef ini semuanya telah diatur oleh Tuhan.

 

Betlehem dalam bahasa Ibrani berarti rumah roti dan dalam bahasa Arab yang berarti rumah daging. Keduanya memiliki makna yang sama yaitu “disinilah Yesus, sang roti hidup, telah dilahirkan.” Betlehem sang rumah roti juga memiliki makna sebagai Gereja Kudus dimana roti hidup itu berada dan dibagi-bagikan kepada banyak orang. Dalam Lukas 2:7 dikatakan bahwa bayi Yesus dibaringkan dalam palungan. Palungan adalah tempat makanan diletakan. Dalam iman kita percaya bahwa palungan itu adalah perlambang dari altar kudus. Dimana Yesus sang roti hidup membagi-bagikan diri-Nya sebagai makanan untuk orang-orang yang percaya kepada-Nya.

 

Yang terakhir adalah tentang kain lampin. Yesus yang terbungkus kain lampin memiliki makna bawa Ia nyata kelahiran-Nya. Kelahiran-Nya sungguh terjadi tetapi tersembunyi. Begitu juga saat kita menyantap tubuh-Nya saat ekaristi. Ia nyata dalam rupa roti dan anggur tetapi tersembunyi sehingga kita tidak dapat melihat-Nya secara langsung.

Dapat kita simpulkan bahwa kelahiran Yesus di Betlehem diatas palungan dan dibungkus kain lampin, punya kaitan erat dengan ekaristi yang kita rayakan setiap harinya. Yesus yang adalah sang roti hidup berkenan lahir dan hadir di Betlehem yang kita maknai sebagai kehadiran Yesus dalam Gereja Kudus. Diatas palungan yang kita maknai sebagai persembahan diri Yesus di altar kudus. Dan dalam bungkusan kain lampin yang kita maknai sebagai perwujudan Yesus dalam rupa roti dan anggur yang nyata, tetapi tersembunyi.

Continue Reading

Orang Katolik Berdoa Kepada Siapa?

Sebagai umat Katolik, kita tidak asing dengan Doa Rosario, Doa Novena dan doa-doa Katolik lainnya. Seringkali doa-doa ini kita kaitkan dengan Santo-Santa tertentu. Jadi sebenarnya kita berdoa kepada Santo-Santa atau kepada Allah?

Rosario adalah salah satu devosi dalam gereja Katolik. Apa itu devosi? Devosi adalah doa tidak resmi yang diakui oleh gereja Katolik sebagai bentuk relasi umat beriman dengan Allah Tritunggal. Dikatakan tidak resmi karena doa ini tidak diatur secara baku oleh gereja dalam praktiknya. Berbeda dengan Tata Perayaan Ekaristi yang harus dari A sampai Z mengikuti aturan yang sudah dibuat. Jika dalam devosi, praktiknya akan lebih fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan umat beriman.

Jika dalam Tata Perayaan Ekaristi doa yang harus kita daraskan adalah Doa Syukur Agung, tidak boleh doa yang lain karena hal ini sudah diatur oleh gereja. Lain halnya dalam devosi. Misalnya jika kita melakukan devosi medali wasiat, kita bebas berdoa dalam bentuk apapun. Kita tetap punya kebebasan untuk berdoa sesuai kebutuhan kita. Selain itu, devosi punya bentuk yang sangat beragam dan kerap kali diidentikan dengan Santo-Santa tertentu. Misalnya Devosi Rosario Bunda Maria, Devosi Novena St. Antonius dai Padua, Devosi Novena Santo Yakobus, dan masih banyak lagi.

Saat kita berdoa rosario, saat kita bernovena, saat kita berdevosi, sebenarnya kita berdoa kepada siapa? Walaupun doa-doa ini kerap kali diidentikan dengan santo-santa, tetapi sejatinya devosi ini tetap kita tujukan kepada Allah. Sesuai dengan definisi diatas bahwa devosi adalah bentuk relasi umat beriman dengan Allah Tritunggal. Jadi muara dari devosi yang kita lakukan tetaplah Allah dan bukan santo-santa. Faktanya, bukan santo-santa yang menyelamatkan kita melainkan Allah yang maharahim yang dengan kemurahan hatinya akan menyelamatkan kita.

Santo dan santa sebagai orang-orang yang kita percaya sudah bersama Allah di surga bertugas menghantarkan doa-doa kita kepada Allah. Praktik berdoa lewat santo-santa ini, sebenarnya sama saja seperti saat kita meminta doa kepada teman atau kerabat. Bedanya, jika teman dan kerabat kita masih tinggal bersama kita di dunia sedangkan santo-santa ini sudah berada di surga bersama dengan Allah. Kita percaya bahwa mereka golongan orang-orang benar. Dalam Alkitab dikatakan, doa orang-orang benar adalah doa yang didengar oleh Allah.

Kesimpulannya, kita berdevosi untuk membangun relasi dengan Allah. Sekalipun dikaitkan dengan santo-santa, tugas merka hanya membantu mendoakan bukan mengabulkan permintaan kita. Syalom!

Sumber : Katolik Media

Continue Reading
Kisah Bukit Salib
bukit salib

Kisah Bukit Salib

Kisah Bukit Salib

 

bukit salib

Bukit Salib adalah sebuah situs ziarah yang berada sekitar 12 km di sebelah Utara Kota Šiauliai, di Lithuania Utara. Permulaannya tidak diketahui dengan pasti, tetapi dianggap bahwa salib-salib pertama ditempatkan pada bekas Bukit Benteng Jurgaičiai atau Domantai setelah Perlawanan tahun 1831 Selama berabad-abad, tidak hanya salib-salib biasa, namun juga salib-salib raksasa, patung-patung kayu dari para pahlawan Lithuania, patung-patung Perawan Maria dan ribuan patung mini dan rosario diletakkan di tempat itu oleh para peziarah Katolik. Jumlah salib-salib yang ada tidaklah diketahui, namun diperkirakan berjumlah sekitar 100,000 batang.

Dikutip dari BBC Travel, sekitar 11 km di luar kota Siauliai di utara Lithuania, nampak bukit yang penuh salib. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 100.000 salib!

Dentingan kalung rosario yang tertiup angin seakan menciptakan nuansa tersendiri. Terkenal dengan nama Hill of Crosses ada banyak versi tentang sejarah tempat ini.

“Menurut cerita rakyat, dulu pernah ada sebuah gereja di tempat bukit itu berdiri. Saat badai besar datang, petir menyambar dan mengubur habis gereja tersebut bersama dengan seluruh jamaah yang berada didalamnya. Penduduk setempat percaya, sampai saat ini masih bisa merasakan roh pendeta yang gentayangan di kaki bukit saat matahari terbit. Namun seiring berjalannya waktu, itu seolah menjadi cerita rakyat belaka,” lanjutnya.

Versi lainnya pada tahun 1348, terdapat sebuah kastil kayu yang ditinggali oleh kumpulan warga Samogitian. Namun naas, kastil tersebut kemudian dihancurkan oleh seorang pendeta-tentara dari Jerman. Dari situ, banyak yang percaya bahwa orang- orang Samogitian yang selamat mengubur kawanan mereka di bukit tersebut.

Dari banyaknya cerita yang beredar, cerita mengenai seorang anak yang sembuh karena ayahnya menancapkan salib di bukit tersebut adalah yang paling terkenal. Keajaiban inilah yang menjadi daya tarik wisatawan. Pelancong dari seluruh dunia berbondong-bondong datang ke Bukit Salib untuk berdoa dan menaruh harapan mereka pada sebuah salib yang ditancapkan di bukit tersebut. Mereka berharap segala doa dan permintaan mereka akan terkabul.

Namun tidak semua salib yang ditancapkan merupakan harapan dan doa. Adapula yang merupakan simbol duka dan kenangan pada aksi pemberontakan terhadap Uni Soviet di abad ke-19. Dalam usahanya membasmi Kristiani di blok timur, Uni Soviet menghancurkan dan membakar seluruh kayu salib yang ada di bukit.

Selain itu, mereka juga memindai seluruh logam dan batu untuk konstruksi. Bagi yang berani membawa salib ke bukit tersebut akan didenda dan dipenjarakan. Namun anehnya, salib yang berada di atas gundukan bukit terus bertambah di tengah malam. Hal ini dipercaya terjadi sebagai aksi pemberontakan dari penindasan terhadap kaum religi. Sekarang, setelah lebih dari seperempat abad dari kejatuhan Uni Soviet, salib di bukit tersebut masih kokoh berdiri.

“Untuk sebagian orang, Bukit Salib merupakan tempat untuk merenung dan berdoa. Sedangkan yang lain merasa bahwa Bukit Salib merupakan simbol dari penolakan dan perlawanan di masa kelam. Sisanya merasa, Bukit Salib sebagai tempat ‘pelarian’ dari rutinitas yang membosankan.

Selama berabad-abad, tempat ini telah menjadi simbol kesinambungan iman Katolik Rakyat Lithuania melewati berbagai tantangan yang harus dihadapinya sepanjang sejarah. Setelah Persemakmuran Polandia-Lithuania pecah pada tahun 1795, Lithuania menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia. Rakyat Polandia dan Lithuania bangkit menentang penguasa Rusia dalam Perlawanan November 1831 dan Perlawanan Januari 1863, namun gagal. Kedua gerakan perlawanan itu berhubungan dengan permulaan Bukit Salib: karena sanak-famili dari para pejuang yang gugur, yang tidak dapat menemukan jenazah anggota keluarga mereka, mulai menempatkan salib-salib simbolik di sebuah bukit bekas tempat pertahanan. Tatkala struktur politik lama dari Eropa Timur runtuh pada tahun 1918, Lithuania sekali lagi memproklamasikan kemerdekaannya. Selama waktu itu, Bukit Salib digunakan oleh Rakyat Lithuania sebagai tempat untuk berdoa bagi perdamaian, bagi tanah air mereka, bagi orang-orang terkasih yang telah hilang dari mereka selama Perang Kemerdekaan Lithuania.

Pada tanggal 7 September 1993, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Bukit Salib, dan menyatakan situs itu sebagai tempat bagi harapan, damai, kasih, dan pengorbanan. Pada tahun 2000, sebuah biara Pertapaan Fransiskan dibuka di dekat situ. Dekorasi interiornya dihubungkan dengan La Verna, gunung tempat St. Fransiskus menerima stigmata. Bukit itu tetap tidak berpemilik; oleh karenanya orang-orang bebas untuk menegakkan salib-salib di mana saja sesuka hati.

bukit salib
Continue Reading
Facta tentang PKKC
Gereja Paroki Keluarga Kudus Cibinong

Facta tentang PKKC

 

Tahukah Kamu?

oleh: Dionisia A.Carola & Marta Silvia

  1. PKKC merupakan salah satu paroki terbesar di Keuskupan Bogor. Tahukah kamu,bagaimana awal berdirinya gereja katolik PKKC hingga berdiri kokoh saat ini?

Paroki keluarga kudus cibinong terbentuk sebagai Gereja perdana, Gereja”Keluarga Kudus” pada awal mulanya merupakan bagian reksa Pastoran Paroki Katedral Bogor. Kira-kira tahun 1956 Pastor A Leunissen, OFM. Conv. mulai merintis karya pastoran di Cibinong dibantu oleh beberapa tenaga katekis yang antara lain Ibu Thion Hwat Nio. Pada tanggal 30 September 1958, untuk pertama kalinya Pastor A. Leunissen, OFM. Conv. membaptis pasangan suami-istri dari Cibinong, yaitu Yoseph Tan Tek Kim dan Maria Thio Sun Nio berikut putranya Antonius Tan Tjoan Gie. Setelah keluarga tersebut dibaptis, rumah tinggalnya mulai digunakan untuk Perayaan Ekaristi pada saat saat tertentu.

  1. PKKC telah berdiri kurang lebih 43 tahun yang lalu dan telah beberapa kali berganti kepemimpinan. Tahukah kamu siapa sajakah Pastor yang pernah memimpin PKKC?

Dari awal lahirnya Paroki Keluarga Kudus Cibinong sampai saat ini sudah ada 9 Pastor Paroki yang pernah bertugas di Cibinong.

Berikut Nama-Nama Pastor tersebut.

  1. Romo GWJ Rujs.OFM, pernah melayani dari tahun 1975-1979 beliau adalah Romo pertama.
  2. Romo B.Sudjarwo,Pr, b beliau melayani dari tahun 1979-1983.
  3. Romo EJ Rijper.OFM, beliau melayani daritahun 1983-1984.
  4. Romo Diaz Viera,SVD, beliau melayani daritahun 1984-1991.
  5. Romo Franz Larry,Pr, beliau melayani dari tahun1991-1995.
  6. Romo Y.Hardono,Pr, beliau melayani dari tahun1995-1999.
  7. Romo A.Adi Indiantono, beliau melayani daritahun 1999-2000.
  8. Romo M.Suharsono,Pr, beliau melayani daritahun 2000-2017.
  9. Romo Agustinus Suyatno, Pr, yang melayani dari tahun 2017- sekarang. (Sejarah PerjalananParoki Keluarga Kudus Cibinong, 2013:52).

 

  1. Tahukah Kamu bahwa Paroki Keluarga Kudus Cibinong mendapatkan sebuah gelar yang sangat istimewa, yaitu “Stasi yang melahirkan banyak Stasi”? Apa maksudnya?

 Sebelum berdiri menjadi sebuah Paroki, PKKC merupaka sebuah stasi yang bernama Stasi  St. Philipus. Seiring berjalannya waktu, karena semakin bertambahnya umat dan jarak yang harus ditempuh umat, maka lahirlah beberapa stasi hasil pemekaran dari PKKC:

  • Stasi Santo Vincentius Gunung Putri (kini telah memiliki tanah seluas 1000 M2, yanghingga kini masih dalam proses perijinan pembangunan Gereja)
  • Stasi Santo Andreas Ciluar (Tahun 1998 ini telah membeli tanah seluas 1000 M2 yang akan digunakan untuk Gereja, dan 485 M2 untuk  pembangunan sekolah TK Mardi Yuana)
  • Stasi Santo Simon Citeureup
  • Stasi Santo Yohanes Berchman Cileungsi
  • Stasi Santo Arnoldus Jonggol (memiliki tanah seluas 1200 M2),
  • Stasi Santo Matheus Depok II Tengah (sejak Januari 1997 menjadi stasi yang otonom),
  • Stasi Santo Thomas Kelapa Dua (kini sudah menjadi Paroki sejak tanggal 23 Maret 1991),
  • Stasi Santo Markus Depok II Timur (kini sudah menjadi Paroki sejak 20 November 1994). (Sejarah Perjalanan Paroki Keluarga Kudus Cibinong, 2013:73)
  1. Dari sekian banyak orang yang telah dibaptis di PKKC, tahukan kamu siapakah orang yang pertama kali dibaptis di PKKC? Atau bisa saja mungkin Anda mengenalnya.

Orang yang pertama kali tercatat dalam  Buku Baptis Paroki dengan Nomor Buku Baptis  Reg. 1/Fol/No. 1 dan dicatat pada tanggal 9 Juli  1975 adalah Saudari Elizabeth Yunita Susiani,  puteri dari Bapak FX Suwarno dan Ibu Bernadetha  Siwi Muwarni. (Sejarah Perjalanan Paroki Keluarga Kudus Cibinong, 2013:47).

 

  1. PKKC merupakan gereja yang sangat luas, tahukah kamu berapa luas PKKC yang sebenarnya? Berapakah jumlah umat yang dapat ditampung dalam satu kali misa?

 

Paroki memiliki tanah untuk relokasi gereja  dan pembangunan sarana pra-sarana pastoral lainnya seluas : 10.000 m2 dengan rincian : Tanah pemelihan dari Bapak.Teddy seluas 6.400 M2. Tanah hibah dari Ibu Lenny seluas 3.600 M2. Dalam satu kali misa, PKKC dapat menampung umat sebanyak 3.000 umat. (Sejarah Perjalanan Paroki Keluarga Kudus Cibinong, 2013:90)

 

  1. Tahukah kamu Altar kita terbuat dari apa?

 Altar yang berada di tengah bangunan Paroki Keluarga Kudus Cibinong dirancang oleh Bapak Octavianus Marti Nangoy terbuat dari batu Brazilian White dengan panjang 4,11 m dan  tinggi 1,01 m. Pak Ovi mengatakan bahwa adafilosofi tersendiri dari angka 1 yang terdapat padapanjang dan tinggi altar yang berarti sebuah harapan atas kelanjutan karena setelah angka satu akan terdapat angka 2 dan setrusnya. Namun apabila angka-angka tersebut diakhiri dengan angka 0, angka 0 sendiri biasanya identik dengan akhir. Di depan altar juga terdapat relief perjamuan kudus yang diukir selama setahun di Kediri. (Bapak Octavianus Marti Nangoy).

 

  1. Tahukah kamu Relikui yang terdapat di PKKC?

 

Relikui yang terdapat di balik altar PKKC merupakan relikui dari St. Antonius dari Padua. Relikui tersebut berasal dari Vatikan yang kemudian diberikan oleh Bapak Uskup kepada gereja. Relikui tersebut merupakan sepotong kain linen yang dengan hormat telah disentuhkan pada lidah terberkati St. Antonius dari Padua yang tidak hancur karena membusuk setelah lebih dari 700 tahun meninggal. (Romo Alfonsus Sombolinggi, Pr).

  1. Pernahkah kamu perhatikan dengan seksama Patung disekelilingi PKKC?

 

Patung-patung tersebut seharusnya merupakan patung kedua belas rasul, namun rasul Yakobus anak Alfeus dan Tadeus digantikan oleh pengarang injil yaitu St. Markus dan St. Lukas, sedangkan Yudas Iskariot yang seharusnya digantikan oleh St. Matias, namundi PKKC patungnya diganti menjadi patung St.Paulus sebagai nama pelindung Sekolah Tinggi Seminari Keuskupan Bogor yaitu Seminari Tinggi Petrus – Paulus.

 

  1. Tahukah kamu apakah sebenarnya bentuk bangunan PKKC? Dan mengapa demikian?

Rancangan bangunan PKKC diajukan oleh seorang arsitek perempuan profesional yaitu PT Andal dan disetujui oleh Bapak Uskup pada tanggal 8 Oktober 2004. Bangunan PKKC berbentuk seperti burung yang melambangkan roh kudus agar gereja kita senantiasa dilindungi oleh roh kudus. (Sejarah Perjalanan Paroki Keluarga Kudus Cibinong, 2013:98).

semoga bermanfaat

Continue Reading
Shooting Kisah Kebangkitan dan Kenaikan Tuhan Yesus
Shooting Kisah Kebangkitan dan Kenaikan Tuhan Yesus

Shooting Kisah Kebangkitan dan Kenaikan Tuhan Yesus

 

Tanggal 6 Mei 2018 di sekitar gereja paroki keluarga kudus cibinong telah dilaksanakan sehooting film tentang kisah kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus ke Surga diproduksi oleh Komsos PKKC bekerja sama dengan TVRI. Naskah ditulis oleh Gloria dan di sutradarai oleh Garry Hantono. pelaksanaan shooting film kali ini sangat berkesan karena didukung oleh anak muda yang bertalenta serta support yang luar biasa dari Para Romo< anggota dewan paroki serta umat. Mari saksikan kisah selengkapnya dalam acara Mimbar Agama Katolik di TVRI tanggal 14 Mei jam 08.30.

Continue Reading

Yesus Sang Teladan Sejati

Puncak Ekaristi Gereja Katolik adalah saat Perayaan Kamis Putih. Perayaan Kamis putih adalah dimulainya Gereja untuk merayakan Perjamuan Malam Terkahir. Dimana perjamuan tersebut ialah yang dilakukan oleh Yesus untuk para rasul dan kini untuk kita semua. Dalam perjamuan tersebut terdapat Roti dan anggur yang diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus sendiri. Namun, bukan hanya itu saja yang diperingati dalam Kamis Putih. Peristiwa lainnya ialah pembasuhan kaki para Rasul oleh Yesus.
Mengapa Yesus membasuh kaki? Mengapa Yesus tidak membasuh anggota tubuh lainnya. Yesus mau menunjukkan pada kita bahwa diri-Nya menjadi abdi yang paling rendah. Ada banyak tugas yang ditanggung oleh kaki dalam hidup manusia. Yesus pun memilih kaki sebagai bagian tubuh para murid yang hendak dibasuh. Kiranya ini bisa menjadi tanda bahwa Yesus mengambil titik terendah penopang hidup dan pergerakan manusia. Ia melayani sampai pada titik dasar perjumpaan manusia dengan bumi. Ia juga membersihkan membersikan penyangga pergerakan manusia.

Pesan Yesus dalam Injil Yoh. 13:1-15, “Hendaklah kamu saling membasuh kaki” Kata Yesus pada malam itu. Pesan yang sangat singkat dan jelas sebelum diri-Nya kembali kepada Bapa di Sorga. Makna dari pesan ini bukanlah semata-mata untuk kita hanya membasuh. Makna paling mendalam dari pesan Yesus ini adalah agar kita saling Mengasihi dalam hidup. Yesus telah menunjukkan diri kepada para Rasul dan murid lainnya, bahwa Ia menjadi pelayan dan teladan sejati.

Dalam hidup yang dijalani oleh kita, banyak masalah mengenai persaudaraan dan komunitas. Sering kita berselisih pandang dengan keluarga, pasangan, teman-teman dan masyarakat. Permasalahan itu didasari sebuah semangat menang sendiri (red: egois) dibandingkan mengasihi. Pesan Yesus melalui perayaan Kamis Putih sangat jelas bahwa diajaknya kita untuk mengasihi bukan membenci. Kita lebih memilih membuang-buang waktu memikirkan masalahnya dibandingkan menyelesaikannya. Kita lebih memilih memblokir orang lain dalam hdiup kita, dibanding terbuka dalam membangun ppersaudaraan.

Marilah kita melalui pesan Yesus dalam Kamis Putih ini, bersama-sama membangun diri untuk lebih mencintai, dan membasuh orang lain dengan tulus hati. Kamis Putih ini menjadi kesempatan bagi kita untuk semakin meyakini kasih Tuhan. Tuhan mengasihi kita dari titik dasar hidup kita. Ia pun menjagai kita dengan membersihkan penopang gerakan hidup kita. Maka mari kita syukuri kasih Tuhan bagi hidup kita. Kita lakukan kehidupan dan pergerakannya dengan kaki bersih.

Continue Reading

Dihadapan Dia Semua Orang Hidup

“ Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka: “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.” (Luk20:27-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Sesuatu yang kontradiktif, tidak percaya akan kebangkitan orang mati menanyakan perihal kebangkitan orang mati, itulah orang-orang Saduki. Tidak percaya kepada kebangkitan orang mati berarti tidak percaya kepada Allah, maka menanggapi pertanyaan orang-orang Saduki, Yesus menjawab: “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup”. Maka baiklah kami mengajak semua umat beriman atau beragama untuk merefleksikan sabda Yesus di atas ini, yaitu bahwa ‘di hadapan Dia/Allah semua orang hidup’. Berada di hadapan Allah mau tak mau akan tunduk atau taat pada Allah dan dikuasai oleh Allah, harus melaksanakan kehendak atau perintah Allah. Apakah kita sebagai umat beriman atau beragama semakin tambah usia dan berpengalaman dalam hidup juga semakin berada ‘di hadapan Allah’? Kami percaya bahwa sebagai umat beragama sering berdoa atau bahkan setiap hari berdoa, berusaha untuk berada ‘di hadapan Allah’, namun apakah hal itu terjadi secara formal atau liturgis melulu serta kurang dihayati, kiranya boleh dipertanyakan. Jika setiap berdoa kita sungguh berdoa alias berada ‘di hadapan Allah’, maka selayaknya kita semakin mesra hidup bersama dan bersatu dengan Allah, dan dengan demikian juga percaya bahwa setelah mati atau meninggal dunia nanti akan hidup mulia selamanya bersama Allah di sorga, dan selama hidup di dunia ini juga lebih mengandalkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi daripada pada manusia, harta benda atau uang. · “Teringatlah aku sekarang kepada segala kejahatan yang telah kuperbuat kepada Yerusalem dengan mengambil perkakas perak dan emas yang ada di kota itu dan dengan menyuruh bahwa penduduk Yehuda harus ditumpas dengan sewenang-wenang. Aku sudah menjadi insaf bahwa oleh karena semuanya itulah maka aku didatangi malapetaka ini. Sungguh aku jatuh binasa dengan sangat sedih hati di negeri yang asing” (1Mak6:12-13), demikian kata sang raja setelah menerima berbagai peringatan dari orang yang mendatanginya. Kutipan di atas ini mungkin baik menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi para koruptor, yang dengan seenaknya mengambil milik atau hak orang lain. Namun sayang, mungkin para koruptor tidak membaca renungan saya ini, maka kepada mereka yang menerima email saya, silahkan diteruskan kepada para koruptor. Tindakan korupsi atau tindakan pembusukan hidup bersama, sehingga hidup bersama busuk alias tidak sedap lagi, tidak menarik, tidak mempesona dan tidak memikat. Perilaku korupsi sebenarnya sudah terlatih sejak masih dalam sekolah atau dunia pendidikan yaitu ‘kebiasaan menyontek’, maka kami berharap kepada para pengelola atau pelaksana pendidikan/guru untuk memberlalukan ‘dilarang menyontek baik dalam ulangan maupun ujian’ di lingkungan sekolahnya. Membiarkan atau memberi kemungkinan kepada para peserta didik untuk menyontek baik dalam ulangan maupun ujian hemat saya berarti mempersiapkan diri para koruptor untuk masa depan. Sadarlah bahwa kebiasaan menyontek menjadi modal untuk berbuat jahat: mencuri atau korupsi. “Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi, sebab musuhku mundur, tersandung jatuh dan binasa di hadapan-Mu. Engkau telah menghardik bangsa-bangsa, telah membinasakan orang-orang fasik; nama mereka telah Kauhapuskan untuk seterusnya dan selama-lamanya” (Mzm9:2-46)

Continue Reading

Kobarkan Api Paskah

Selama vigili Paskah kita akan merayakan ritus pencahayaan lilin Paskah yang mengharukan. “Kristus cahaya dunia”, seruan ini diserukan hingga 3 kali. Cahaya Kristus ini telah menghalau kegelapan dan dosa manusia. Sebagai pengikut Kristus kita harus memahami cahaya Kristus ini. Apabila kita paham bahwa Yesus Kristus adalah cahaya dunia ini, kita akan meningkatkan iman kita kepada dia dan menjadi cahaya untuk orang lain. Kristus telah Memberi bukti nyata akan misinya di dunia ini untuk keselamatan manusia. Gereja Katolik mampu berkembang sampai saat ini karena mendasari cahaya Kristus ini. Cahaya Kristus nampak nyata dalam penderitaan, wafat, dan kebangkitan Kristus. Hal inilah yang mendasari dasar iman Gereja Katolik dalam melanjutkan cahaya api Kristus. Gereja dibentuk dari tubuh mistik Kristus. Gereja juga pun diwartakan dari karunia yang diajarkan kepada rasul. Hal inilah yang dikatakan sebagai suksesi apostolik. Suksesi apostolik ini didasarkan dari misi yang dimiliki para rasul dalam melanjutkan cahaya Kristus. Yesus telah menunjukan bebagai cara dalam perjumpaannya dengan para rasul. Cara Yesus inilah yang menjiwai misi para rasul dalam hidup mereka. Perjumpaan ini memunculkan kesatuan antara misi Yesus dan rasul-rasulNya, yang telah mengalami hidup mulia bersama Yesus. Sebagai pengikut Kristus kita telah merasakan api misi Kristus yang diwartakan oleh para rasul dalam ajaran iman kita, dan sebagai pengikut Kristus, kita juga diajak untuk melanjutkan api misi Kristus itu demi keselamatan umat manusia. Mengobarkan api misi ini hendaknya dilakukan oleh setiap pengikut Kristus, karena ini bukanlah perkara yang mudah dalam era saat ini. Oleh karena itu, kita akan selalu membutuhkan Tuhan dalam segala usaha, karya dan pelayanan kita. Adapun usaha, karya dan pelayanan ini hendaknya menjadi nyata dalam perjumpaan kita dengan sesama. Hal inilah yang menjadi problem kita era global ini dalam mengobarkan api misi Kristus. Kontak virtual tidak bisa menggantikan perjumpaan atau relasi langsung dengan orang lain. Adanya perjumpaan, kita akan menyadari aliran rahmat Tuhan. Perjumpaan ini jugalah yang membantu kita mengukur diri kita sejauh mana hubungan kita dengan Tuhan. Segala sesuatu upaya yang didasari dengan rahmat Tuhan tentu akan berdaya guna meskipun menghadapi kesusahan pada waktunya, karena bukan kesusahanlah yang menjadi tujuan utama kita, tetapi dibalik itu semua yang membawa kita pada kesempurnaan dan kedamaian lahir batin. Semoga dengan api Paskah ini kita semakin bersemangat dalam iman, harapan dan kasih. Dengan penuh kasih, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Paskah dan selamat mengobarkan semangat api Paskah Kristus dalam hidup. Teriring doa dan berkat Yesus Kristus.

Who we are

A team that loves to create

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas aliquet laoreet felis id tristique. Duis efficitur, augue a condimentum placerat, tortor nibh maximus neque, eu eleifend tortor urna in odio. Maecenas ultrices dolor a nulla cursus, ut consequat purus volutpat. Donec pellentesque ligula enim, sed luctus ex posuere eu. Pellentesque odio lorem, posuere vel magna vitae, suscipit commodo nisl.

Proin elementum neque et tempor viverra. Suspendisse in ante tristique, facilisis tellus at, commodo augue. Mauris quis sapien accumsan, dapibus ex nec, ultricies nunc. Duis eu enim sit amet sapien scelerisque placerat. Fusce rutrum iaculis hendrerit. In aliquet, nibh at egestas pharetra, nulla nisi molestie nisl, nec interdum ex purus maximus felis.

Let’s work together! Drop us an email to get started!

What we do

Keep it simple

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas aliquet laoreet felis id tristique. Duis efficitur, augue a condimentum placerat, tortor nibh maximus neque, eu eleifend tortor urna in odio. Maecenas ultrices dolor a nulla cursus, ut consequat purus volutpat. Donec pellentesque ligula enim, sed luctus ex posuere eu. Pellentesque odio lorem, posuere vel magna vitae, suscipit commodo nisl.

Proin elementum neque et tempor viverra. Suspendisse in ante tristique, facilisis tellus at, commodo augue. Mauris quis sapien accumsan, dapibus ex nec, ultricies nunc. Duis eu enim sit amet sapien scelerisque placerat. Fusce rutrum iaculis hendrerit. In aliquet, nibh at egestas pharetra, nulla nisi molestie nisl, nec interdum ex purus maximus felis.

Wanna see proof? Check out our work! 

Continue Reading

End of content

No more pages to load