Penerimaan Sakramen Krisma
Penerimaan Sakramen Krisma PKKC

Penerimaan Sakramen Krisma

Penerimaan Sakramen Krisma

“Allah ingin kita berbuah, tapi Allah juga butuh penggarap-penggarap kebun anggurNya”, itulah tema utama yang disampaikan oleh Bpk. Uskup Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM dalam misa penerimaan Sakramen Krisma bagi 508 orang pesertanya, hari minggu 8 oktober 2017. Pesan ini tentu tidak hanya ditujukan kepada para wiswan Sakramen Krisma saja tetapi juga bagi kita semua bahwa  Allah membutuhkan kita untuk menjadi pelayan-pelayan yang setia, pelayan-pelayan yang tangguh dan bangga akan iman kepada Tuhan. Untuk menjadi penggarap yang baik maka dibutuhkan proses, kesediaan dan kerelaan , yang terus menerus kita kembangkan dalam kehidupan kita agar semangat pengurapan minyak krisma selalu menjadi kekuatan dalam setiap pelayanan kita.

Bagi para wiswan Sakramen Krisma, Sakramen Krisma merupakan tanda kedewasaan iman seseorang. Penerimaan sakramen Krisma melengkapi rahmat pembaptisan, dan menyempurnakan inisiasi. Melalui sakramen Krisma, seseorang diikat secara kebih kuat dan sempurna dengan Gereja serta diperkaya dengan daya kekutan Roh Kudus. Konsekuensi dari sakramen Krisma adalah tanggung jawab iman dan semakin wajib untuk menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus. Dalam Sakramen Krisma juga ada Pengurapan dengan minyak Krisma yang berarti kita yang sudah menerima Krisma dikuduskan, dikhususkan, dan menerima Kuasa untuk melakukan tugas perutusan kita sebagai umat beriman. Dengan menerima Sakramen Krisma, kita menerima Roh Kudus yang merupakan meterai, Tanda bahwa kita ini milik Allah.

Lewat perumpamaan tentang kebun anggur dan penggarapnya, Tuhan menginginkan kita menjadi penggarap yang baik, Tuhan mengutus RohNya agar kita diberi kekuatan / peneguhan untuk; menolak setan / tidak melakukan perbuatan yang tidak baik, percaya kepada Tuhan, harus punya pegangan hidup kepada gereja katolik, dan harus mengakui iman katolik dan harus bangga menjadi orang katolik.

Dan kita patut bersyukur kepada Tuhan bahwa para wiswan Sakramen Krisma kali ini ternyata didominasi oleh kaum muda, semoga anda semua sungguh menghayati peneguhan ini agar semakin berani ambil bagian menjadi penggarap-penggarap kebun anggur Tuhan. Angka 508 terlalu kecil jika dibandingkan dengan jumlah umat, tapi anda harus bangga menjadi pilihan Allah, dan anda semua telah diurapi supaya berjuang dalam hidup menjadi serupa dengan Kristus dalam mencintai Tuhan dan mengasihi sesama.

Pesan terakhir yang disampaikan bapak Uskup Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM adalah marilah kita menjadi orang katolik yang kuat, yang setia dalam melayani Tuhan, setia dalam mewartakan kabar suka cita Tuhan.

Selamat kepada 508 wiswan Sakramen Krisma, semoga warna putih yang menghiasi gereja menjadi simbol bahwa anda semua telah siap dan menjadi manusia baru, untuk menjadi penggarap-penggarap kebun anggur Tuhan  yang setia.

Continue Reading
Jadilah Pelayan Kudus, Pesan Dubes Vatikan Mgr. Antonio G. Filipazzi
Jadilah Pelayan Kudus, Pesan Dubes Vatikan Mgr. Antonio G. Filipazzi pada 12 Imam-Diakon Tertahbis di Cibinong, Bogor

Jadilah Pelayan Kudus, Pesan Dubes Vatikan Mgr. Antonio G. Filipazzi

BAGI saya, hari ini bukan saja salah satu pesta terpenting Bunda Maria sepanjang tahun liturgi, namun hari ini menjadi penting karena untuk kedua kalinya selama menjadi uskup, saya dapat kesempatan untuk memimpin misa pentahbisan. Oleh karena itu, saya mengucapkan limpah terimakasih kepada Mgr. Pascalis Bruno Syukur OFM, yang berkat kebaikan dan keugahariannya ala fransiskan, mengundang saya hadir di sini.

Saya menyampaikan salam kepada Beliau serta para imam dan umat Keuskupan Bogor, orangtua para tertahbis dan keluarga spiritual mereka, yaitu keluarga Fransiskan dan keluarga Karmelit Santo Elia. Saya membawa berkat Paus Fransiskus untuk saudara sekalian. Saya juga mengajak kita semua untuk berdoa bagi Bapa Suci, yang selalu minta untuk didoakan.

Selain itu, hendaknya doa kita menyokong dan menuntun para diakon dan imam baru, dan juga bertujuan untuk meminta kepada Tuhan anugerah panggilan imamat serta panggilan hidup bakti yang kudus dan berlimpah. Doa untuk panggilan, yang sesuai dengan permohonan Yesus kepada Bapa untuk mengutus para pekerja ke ladangNya, dan yang karenanya harus didoakan terus menerus setiap hari, merupakan doa yang meliputi seluruh Gereja: yakni para keluarga, paroki dan sekolah, di mana bertumbuh panggilan-panggilan; kaum muda yang sedang berupaya meraih masa depan mereka; para imam, para biarawan dan biarawati, agar tetap tekun dalam jalan yang telah Tuhan tetapkan bagi mereka.

Keikutsertaan pada tahbisan suci ini menggugah kita untuk selalu lebih berdoa untuk ujud ini yang begitu penting dan sangat berarti bukan hanya bagi Gereja, namun juga bagi dunia.

Sebelum penderitaanNya, Tuhan Yesus bersabda kepada para rasulNya: “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari DiriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari padaKu” (Yoh. 16: 13-14).

Dibimbing Roh Kebenaran ini, melalui iman yang dihayati umat kristiani, berkat perayaan liturgi suci, melalui hasil permenungan para teolog dan ajaran Bapa Suci bersama para Uskup, Gereja memperoleh pemahaman Sabda Tuhan yang semakin kaya dan mendalam.

Begitulah apa yang terjadi dengan dogma yang menjadi pusat perayaan hari ini: yaitu Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Di bawah bimbingan Roh Kudus yang membawa kita pada seluruh kebenaran, Gereja berhasil memahami dengan lebih baik makna perkataan Malaikat yang kita dengar dalam Injil saat ia menyebut Maria “penuh rahmat”. “Sepanjang sejarahnya Gereja sungguh menyadari bahwa Maria ‘yang dipenuhi rahmat’, telah ditebus sejak dalam kandungan” (CCC 491).

Ia telah dijauhkan dari warisan asal Adam, yakni warisan yang berasal dari dosa yang dikatakan dalam bacaan pertama, yang akibatnya menimpa setiap pria dan wanita yang tidak dapat dibebaskan kecuali melalui Sakramen Pembaptisan.

Sesungguhnya, seperti dikatakan oleh Perawan Maria sendiri dalam “Magnificat”, Tuhan “telah melakukan perbuatan-perbuatan besar” bagi hambaNya yang hina. Sungguh, “Ia telah memperoleh penebusan berkat anugerah Puteranya. Melebihi seluruh makhluk ciptaan, Bapa telah mengaruniakan segala berkat rohani di dalam surga, melalui Kristus (Ef. 1:3)” (CCC492).

Jadi, lewat kandungan yang tak bercacat, Tuhan telah mempersiapkan sebuah kediaman yang pantas untuk menerima PuteraNya yang menjelma menjadi manusia, seperti dikatakan liturgi hari ini (lih. doa pembuka). Secara unik, sejak awal mula Tuhan telah menghendaki agar Maria begitu suci dan tak bercacat dalam hal kasih, seperti dikatakan S. Paulus dalam bacaan kedua yang baru saja kita dengarkan.

Namun, rencana Tuhan, menurut Santo Paulus, tidak hanya menyangkut Perawan Maria saja, tetapi juga meliputi semua orang agar mereka juga hidup kudus dan tak bercela. Ini menyangkut sebuah rencana bagi seluruh manusia yang terwujud melalui panggilan personal yang ditentukan Tuhan, entah melalui hidup berkeluarga atau imamat maupun hidup bakti. Semua bentuk panggilan hidup ini merupakan jalan yang berbeda guna menghayati panggilan yang satu-satunya, yakni menjadi kudus dan tak bercela.

Begitu juga panggilan para diakon dan imam baru ini menjadi bagian dari rencana Tuhan yang besar yang menghendaki agar kita menjadi kudus dan tak bercela. Dalam hidup pelayanan dan hidup mereka sebagai diakon dan imam, mereka harus menjadi demikian, dan hanya bila mereka kudus dan tak bercela, pelayanan mereka akan membangun Gereja, akan menjadi terang yang menyinari seluruh manusia dan akan menarik semua orang kepada Tuhan.

Sudah barang tentu Tuhan juga mempergunakan para pelayan pendosa dan keabsahan Sakramen tidak tergantung dari kekudusan orang-orang yang mempersembahkannya, namun alangkah tidak masuk akal jika mereka merayakan Sakramen dan mewartakan Sabda Tuhan tanpa menghayatinya secara pribadi demi pembaharuan kehidupan diri sendiri.

Menjadi milik Tuhan
Para tertahbis terkasih, dalam kehidupan dan pelayanan, Anda haruslah menjadi milik Tuhan sepenuhnya: ini berarti bahwa Anda harus menjadi suci.

Agar bisa demikian, kalian harus menyatu dengan Dia dalam doa, terutama lewat doa brevir yang kalian doakan setiap hari juga bagi umat kristiani, yang kalian pimpin dan bimbing dalam hidup doa. Hendaklah Anda setia dalam doa dan berkesaksian doa, terutama dengan menyediakan waktu di gereja, di hadapan Ekaristi.

Agar menjadi milik Tuhan sepenuhnya, kalian harus melepaskan pertalian duniawi, menjahui diri dari segala kekayaan dan bentuk penampilan yang palsu. Jangan menjadikan imamat kesempatan untuk memperoleh kekayaan bagi diri kalian atau untuk kerabat kalian. Jangan membuat pelayanan kalian untuk bersenang-senang, bahkan sampai hidup bermewah-mewah.

Kalian harus bersikap bebas dari ego, dengan hidup patuh kepada Gereja dan kepada atasan kalian yang sah. Pelayanan kalian dilaksanakan melalui penghayatan presbiterium keuskupan atau lembaga religius kalian dan dalam persekutuan dengan Paus, Para Uskup dan Pimpinan yang sah. Upayakanlah persatuan dengan komunitas kalian dan jangan menciptakan pemisahan dan perpecahan.

Kalian harus bebas dalam hati, yang hanya diperuntukkan bagi Tuhan melalui hidup selibat, yang memampukan kalian untuk mencintai setiap orang tanpa sama sekali ingin memilikinya. Upaya ini harus dijaga setiap hari dengan berdoa, melalui anugerah Sakramen dan pertobatan. Jangan membiarkan keadaan dan relasi tidak jelas mengaburkan kesaksian ini, membahayakan panggilan kalian dan mengakibatkan skandal.

Menjadi pelayan kudus dan tak bercela
Tahbisan yang kalian terima hari ini menuntut agar kalian menjadi kudus dan tak bercela. Hidup Anda adalah sebuah panggilan, bukan sebuah pekerjaan seperti halnya pekerjaan banyak orang lain yang perilakunya apa saja dapat diterima! Anda perlu menjadi demikian pertama-tama, agar kemudian bisa menjadi pelayan Tuhan yang sungguh-sungguh!

Tuhan memanggil semua orang menjadi kudus dan tak bercela. Santo Paulus berkata: “Kristus telah mengasihi jemaat dan telah meyerahkan dirinya bagiNya untuk mengusudkannya” dan menempatkan gereja di hadapanNya “dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela” (Ef. 5: 25-27).

Para tertahbis yang terkasih, Tahbisan Imamat diberikan bukan sebagai privilese di hadapan umat kristiani, melainkan agar mereka para Pelayan Tuhan menjadi berkat bagi sesamanya dalam menghayati panggilan mereka menjadi kudus dan tak bercela. Misi kita adalah membuat setiap jiwa dan setiap komunitas menjadi Mempelai Kristus yang suci dan tak bernoda.

Hal ini berarti bahwa para imam dan diakon pasti bukanlah tokoh-tokoh politik, pekerja sosial, manajer, psikolog, usahawan… dan lain sebagainya… namun mereka harus sanggup mewujudkan berkat yang hanya mereka saja bisa berikan, yaitu: Sabda Allah dan Sakramen-Sakramen. Perlulah para imam dan diakon mengingat hal ini sehingga hanya inilah yang menjadi tugas pelayanan mereka, bukan yang lain!

Para tertahbis terkasih, sebagai pelayan Sabda, saya mohon Anda menyampaikan dan membawakannya dengan sungguh-sungguh dan persiapan yang mendalam, tanpa improvisasi. Saya meminta Anda untuk mewartakan iman Gereja yang diwartakan oleh Bapa Suci dan Para Uskup, dan bukan pendapat pribadi Anda, sekalipun itu merupakan pendapat para teolog yang ternama.

Saya mengajak Anda memberikan makanan rohani yang berbobot yang menyegarkan iman dan kehidupan; memang benar bahwa khotbah jangan sampai membosankan, namun untuk itu jangan lalu kita membuatnya menjadi serangkaian dagelan dan celotehan agar membuat orang tertawa!

Para tertahbis tercinta, saya mohon Anda merayakan Liturgi kudus dengan benar, sambil menyimak dengan setia norma-norma Gereja, dan mengingat kutipan Konsili Vatikan II tentang hal tersebut yang mengatakan: “Tidak seorangpun, sekalipun ia seorang imam, boleh menambahkan, meniadakan atau mengubah sesuatu dalam hal Liturgi atas prakarsa sendiri” (SC 22).

Ajarilah dan bimbinglah umat beriman sedemikian rupa untuk menyelami doa agung Gereja, tanpa memanipulasinya, tanpa mengubahnya, tanpa menyepelekannya agar umat belajar bagaimana berdoa dengan lebih baik dan bersatu dengan Tuhan.

Para tertahbis yang terkasih, hendaknya jadilah pelayan pengampunan yang setia dalam Sakramen Pengakuan. Pertama-tama Anda sendiri seharusnya sering menerima sakramen tobat terlebih dahulu. Sediakanlah diri Anda untuk menawarkannya kepada umat, dengan menyisihkan waktu secara teratur untuk ini.

Ajarkanlah pentingnya menerima Sakramen ini secara teratur (tidak cukup hanya dua kali setahun, bila mungkin!), agar umat dapat menerima Komuni secara layak. Pesta Maria Dikandung Tanpa Noda mengingatkan kita bahwa Tuhan telah berdiam dalam tubuh Maria karena ia tanpa dosa. Apakah Tuhan yang datang dalam diri kita saat Komuni, mendapatkan kediaman yang bersih, tanpa dosa, seperti dalam diri Maria?

Penting kiranya, bahwa umat sendiri berupaya memperoleh hal seperti ini dari imam mereka tanpa mencari hal-hal lain. Seperti misalnya, memperoleh rekomendasi, atau keuntungan atau pertemanan guna meraih prestasi atau bantuan material, atau bahkan persekongkolan untuk melaksanakan hal yang buruk.

Saya yakin bahwa kita akan memiliki lebih banyak panggilan imamat dan religius, bila di kalangan umat, misi seorang imam lebih dihormati karena disadari akekatnya serta anugerah apakah yang dapat kita peroleh darinya. Saudara-saudari yang terkasih, sambil menyambut para imam dan diakon baru ini, marilah kita bertanya: apa yang kita harapkan dari mereka? Apakah kita menjumpai mereka untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan menerima Sakramen-Sakramen? Sungguh benarkah hal-hal ini begitu penting bagi kita?

Para tertahbis terkasih, panggilan kita tentulah sesuatu yang sangat dibutuhkan dan menuntut tanggungjawab besar bukan hanya bagi keselamatan pribadi kita, melainkan juga bagi keselamatan seluruh jiwa-jiwa. Namun ingatlah bahwa menjadi diakon dan imam itu merupakan suatu kebahagiaan yang besar.

Jika kalian tetap setia pada tugas-tugas kalian yang berkaitan dengan tahbisan, hidup kalian akan mengalami kepehuhan, dan kalian pun, sebagai orang yang meninggalkan seluruhnya bagi Tuhan, akan menerima seratus kali lipat – tentu saja disertai salib – dan akhirnya kehidupan abadi.

Ingatlah juga bahwa Anda sekalian tetap disertai Perawan Maria Yang dikandung Tanpa noda: Yesus dari atas salib telah menyerahkan rasul Yohannes beserta segenap rasul Tuhan kepadaNya. Kepada Bunda ini, Yesus secara istimewa mempercayakan mereka yang mengabdikan diri sepenuhnya bagi pelayanan Kerajaan Tuhan.

Kepada Bunda Yang Tak Bernoda ini, kita mohon untuk melindungi para tertahbis, agar dia juga menyertai para imam kini dan esok, menjaga panggilan mereka, membuat mereka bertekun sampai akhir dan merindukan kekudusan bagi banyak orang. Kepada Bunda Maria ini, kita mohon bimbingan supaya umat beriman mencari para imam terlebih dan terutama sebagai pemberi Sabda Tuhan dan Sakramen-Sakramen untuk menjadikan kita kudus dan tak bercela. Amin.

Continue Reading
Pemberkatan & Peresmian Gereja Paroki Keluarga Kudus Cibinong
Pemberkatan & Peresmian Gereja Paroki Keluarga Kudus Cibinong

Pemberkatan & Peresmian Gereja Paroki Keluarga Kudus Cibinong

Tanggal 25 Januari 2017 merupakan tanggal yang sangat bahagia bagi umat Paroki Keluarga Kudus Cibinong, karena ditanggal tersebut Gereja Keluarga Kudus Cibinong resmi diberkati dan diresmikan. Acara  diawali dengan pemberkatan patung Keluarga Kudus di halaman Gereja Paroki Keluarga Kudus Cibinong oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur, lalu dilanjutkan Misa Konselbrasi yang dipimpin oleh Yang Mulia Nunsius Antonio Guido Filipazzi, Duta Besar Vatican untuk Indonesia, Uskup Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur, Uskup Bogor Emeritus Mgr. Michael Cosmas Angkur, Pastor Paroki RD Michael Harsono serta dihadiri Para Imam Unio Keuskupan Bogor. Nunsius dan Bapa Uskup Bogor memberi pengurapan dan berkat dengan minyak kepada bagian-bagian gereja, antara lain seperti altar dan tiang gereja.

Dalam homilinya, Nunsius mengajak umat Katolik saling menghormati kerukunan antar umat beragama, gereja merayakan pertobatan Santo Paulus. Setiap kali kita memasuki gereja, kita harus memiliki iman dan kasih. Gereja senantiasa menjadi tempat yang bersih, melalui sakramen-sakramen, gereja mampu berdiri di tanah kita, secara khusus juga gereja ditugaskan menghormati keluarga kudus yakni keluarga Nazaret. Bapa Uskup Bogor memberi sambutan apresiasi terhadap umat PKKC yang terus semangat dan berjuang dengan mewujudkan rumahNya,Bait Allah. Mari kita jalan bersama dalam Keuskupan kita dalam Kristus. Rumah ini bisa disebut Rumah solidaritas karena rumah ini merupakan perjuangan kita bersama.

Setelah Misa, acara dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti, pelepasan merpati, dan pelepasan balon yang sebelumnya diawali dengan sambutan dari staf Bupati Bogor. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan siang bersama. Proviciat PKKC…!!!

Continue Reading

World Marriage Day Paroki Keluarga Kudus Cibinong

Tidak terasa satu tahun telah berlalu sejak Paroki St. Matias, Cinere, menyerahkan “tongkat estafet” penyelenggaraan Hari Perkawinan Sedunia (World  Marriage Day) pada Paroki Keluarga Kudus-Cibinong. Hari itu, Minggu (12/2/2017)  umat yaitu para pastutri dan anak-anak mereka yang berasal dari paroki-paroki di Keuskupan Bogor, kembali berkumpul untuk merayakan World Marriage Day yang tahun ini mengusung tema “Keluarga Bersukacita Karena Iman, Harapan dan Kasih”. Hujan gerimis yang mengguyur bumi sejak pagi, tidak menyurutkan langkah dan semangat mereka. Misa konselebrasi diadakan pada pukul 09.00 wib dengan didahului perarakan para pasutri yang telah mencapai usia perkawinan diatas 50 tahun, juga diiringi lagu-lagu Jawa (langgam Jawa) serta alunan gamelan dari kelompok karawitan “Among Roso”, Paroki St. Matias, Cinere. Para pasutri yang telah memasuki usia lanjut tersebut nampak serasi mengenakan pakaian seragam, meskipun mereka harus menggunakan alat bantu berupa tongkat atau pun ada orang yang membantu mereka saat berjalan. Setelah itu, para pasutri yang merupakan wakil dari masing-masing paroki juga turut dalam perarakan memasuki gereja. Dalam kata pembukanya, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM selaku selebran utama mengatakan bahwa langgam Jawa dan tarian dalam perarakan adalah sambutan saat memasuki rumah Raja. Ya, hari itu kita semua diundang secara sukacita untuk memasuki rumah Raja yang tak lain adalah rumah Tuhan.

Sedangkan konselebran yang turut dalam misa adalah RD Agustinus Suyatno, RD Paulus Haruna, RD Alfonsus Sutarno, RD Antonius Dwi Haryanto, RD Ridwan Amo, RD AHY Sudarto, RD Robertus Eeng Gunawan, RD Hendrik, RD Benyamin Sudarto, RD Alfons Sombolinggi, RD Bertho dan RD Rikard.

Sebelum ritus tobat, RD Agustinus Suyatno selaku Pastor Paroki Keluarga Kudus-Cibinong, mengajak para pasutri untuk melakukan penelitian batin dengan berdiri dan saling berhadapan dan berpegangan tangan serta menjawab rangkaian pertanyaan secara sungguh-sungguh. Beragam pertanyaan tersebut diantaranya adalah, “pernahkah anda menyakiti pasangan anda?”.

Mengawali homilinya, Mgr. Paskalis mengatakan bahwa sebelum misa dimulai, beliau bertanya pada beberapa pasutri yang telah memasuki usia perkawinan 50 tahun, mengapa masih setia bersama satu orang selama itu? Mereka pun menjawab yaitu karena mereka saling mengasihi. Lalu, Mgr. Paskalis menambahkan hendaknya para pasutri saling mengasihi meskipun keadaannya tidak lagi sama seperti saat masih muda, karena inilah pemberian dari Tuhan. Selanjutnya Mgr. Paskalis memaparkan dasar-dasar hidup berkeluarga yaitu 1) God’s wisdom atau hikmat Allah atau kebijaksanaan Allah yang menggerakkan manusia untuk saling mengasihi. 2)kasih, yang ada pada Yesus yang kita imani. Yesus adalah Allah. Allah adalah kasih. Yesus adalah personifikasi dari Allah. Deus caritas est. Jika para pasutri memiliki kasih, maka peraturan-peraturan gereja tidak akan membebani mereka  yang saling mengasihi. Ya, karena para pasutri saling mengasihi secara sungguh-sungguh. 3)kemampuan dalam mengambil keputusan, yang juga terbagi dalam 3 yaitu a) keputusan dalam memilih yang nantinya tidak menyesal pada pilihan yang telah diambil. Hendaknya para pasutri harus bisa memutuskan juga menerima diri bahwa mereka dicintai baik oleh Tuhan maupun pasangannya masing-masing. To love and to be lovedb) Keputusan untuk memberi dan menerima maaf. Keputusan ini akan memampukan para pasutri untuk saling mengampuni. Siapapun bisa berbuat salah. Janganlah gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu jika memang salah. Jadilah orang Katolik yang berbangga dengan memberi dan menerima maaf. c) Keputusan untuk bersukacita. Bersukacita yang sejati, sebab dengan begitu para pasutri akan menjadikan rumah sebagai tempat untuk bersukacita bagi semua anggota keluarga. Bersukacita dengan senantiasa memegang iman, harapan dan kasih.

Sebelum berkat dan pengutusan, beberapa wakil pasutri menceritakan suka duka mereka dalam mengarungi bahtera rumah tangga.Lalu diikuti dengan kata sambutan dari Ketua Panitia yaitu pasutri Bardjo-Christin, juga RD Alfonsus Sutarno selaku Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Bogor. Mgr. Paskalis pun berkenan mengucapkan terima kasih pada umat yang telah memilih hidup berkeluarga dan berkenan hadir pada perayaan World Marriage Day hari itu. Tak lupa penyerahan “tongkat estafet” penyelenggaraan World Marriage Day 2018 dari Paroki Keluarga Kudus, Cibinong, ke Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Kota Wisata, Cibubur.

Usai misa, Mgr. Paskalis, para romo beserta umat menuju halaman gereja di dekat Taman Doa untuk menikmati santap siang dan pertunjukan berupa nyanyian dan tari-tarian oleh para wakil pasutri dan anak-anak dari paroki-paroki juga para siswa sekolah Mardi Waluya. Rangkaian acara ditutup dengan menari “Gemufamire” bersama yang merupakan persembahan dari wakil  Paroki  St. Thomas, Kelapa Dua. Semoga para pasutri dan keluarga senantiasa bersukacita dalam iman, harapan dan kasih. Sampai bertemu pada WMD tahun depan di Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Kota Wisata, Cibubur, ya.

Continue Reading
Paroki Keluarga Kudus Cibinong Rayakan Misa Imlek Cita Rasa Prapaskah
Paroki Keluarga Kudus Cibinong Rayakan Misa Imlek Cita Rasa Prapaskah

Paroki Keluarga Kudus Cibinong Rayakan Misa Imlek Cita Rasa Prapaskah

Sabtu, 17 Februari 2018, Paroki Keluarga Kudus-Cibinong menggelar Perayaan Ekaristi Syukur Tahun Baru Imlek 2569. Romo Yatno (Pastor Paroki) bersama Romo Hendrik (Pastor Vikaris) dan Romo Alfons (Pastor Vikaris) mempersembahkan misa konselebrasi bersama umat di gereja paroki. Sesuai dengan kebijakan Keuskupan Bogor terkait perayaan Imlek dalam masa prapaskah, maka perayaan Imlek yang jatuh pada hari Jumat, 16 Februari 2018 dirayakan dengan mengindahkan suasana pertobatan masa retret agung. Sebanyak lima ratusan umat hadir dalam perayaan syukur ini. Warna merah mendominasi suasana perayaan ini yang tampak dalam pakaian panitia dan juga sejumlah umat.

Saling menghargai
Dalam homilinya, Romo Yatno mengajak umat untuk saling menghargai terlebih terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Jangan melebarkan perbedaan tetapi jalinlah persaudaaran dalam kemanusiaan. Perayaan Ekaristi ini hendak merayakan syukur atas berkat Tuhan di tahun shio ayam yang telah dilalui dan memohon berkat bagi tahun shio anjing yang akan dijalani. Usai Perayaan Ekaristi, umat dijamu dengan hidangan khas imlek dan pembagian angpao. Sukacita tahun baru Imlek, semangat persaudaraan, dan rasa syukur atas berkat Tuhan menjadi nilai utama perayaan ini.

Continue Reading
Gereja PKKC dan PUKAT Gelar Misa Bernuansa Budaya Toraja
Gereja PKKC dan PUKAT Gelar Misa Bernuansa Budaya Toraja

Gereja PKKC dan PUKAT Gelar Misa Bernuansa Budaya Toraja

Umat Paroki Keluarga Kudus Cibinong (PKKC) bersama Persekutuan Umat Katolik Toraja (PUKAT) se-Jabodetabek, Cikarang, dan Serang mengikuti Misa Bernuansa Budaya Toraja pada hari Sabtu (14/4/2018) di Gereja PKKC.

Misa yang dimulai pukul 17.45 ini diwarnai dengan beragam elemen khas Toraja dalam liturginya. Nuansa budaya Toraja ditampilkan melalui kata pembuka dalam bahasa Toraja, tarian dan lagu khas Toraja, serta busana adat Toraja yang dikenakan umat. Misa tersebut dipersembahkan oleh selebran utama RD. Alfonsus Sombolinggi, didampingi oleh RD. Agustinus Suyatno, RD. Hilarion Hendrik, RD. Agustinus Sem, dan RD. Fransiskus Fandy sebagai konselebran.

Kedamaian dalam Kebhinekaan
Homili dibawakan oleh Romo Sem, yang mengajak umat untuk menjawab sapaannya dengan teriakan sukacita khas Toraja. Romo Sem mengutip kembali bacaan Injil hari itu, khususnya pada bagian di mana Yesus mengatakan “Damai sejahtera bagi kamu!” pada para murid-Nya. Menurut Romo Sem, damai sejahtera dipilih Yesus karema damai sejahtera merupakan anugerah Allah yang besar bagi manusia. Tanpa damai sejahtera, bahkan harta kekayaan sebanyak apapun akan sia-sia.

Dalam konteks keanekaragaman bangsa kita yang memiliki sekitar 714 suku, kita pun harus dapat menyampaikan damai sejahtera tersebut. “Bagaimana kita sebagai bangsa Indonesia hendak menempatkan persatuan dan kesatuan dalam suasana kedamaian? Caranya, kita harus hidup guyub, kokoh, kompak. Dengan demikian, dalam keragaman itu, kita menjadi satu,” ujar Romo Sem.

Inspirasi Keluarga Kudus
Romo Sem pun menambahkan, bahwa kedamaian dalam keragaman dapat kita terapkan dimulai dari keluarga. Sebagai unsur terkecil masyarakat, keluarga kita pun terdiri dari keragaman. Maka, untuk membangun persatuan dalam keluarga, kita bisa belajar dari spiritualitas peziarahan Keluarga Kudus Nazaret, yang menjadi inspirasi dari pembangunan tempat wisata rohani Keluarga Kudus di Toraja saat ini.

Pada akhir homili, Romo Sem menyampaikan harapannya bagi Gereja PKKC yang menjadikan Keluarga Kudus Nazaret sebagai pelindungnya. “Semoga Keluarga Kudus ini selalu memancarkan cahaya yang bersumber dari Yesus. Dan semoga Sabda Tuhan ‘Damai sejahtera bagi kamu’ dapat diresapkan dalam keluarga, komunitas, masyarakat, bangsa dan negara kita. Amin!” tutup Romo Sem, yang disambut meriah oleh umat dengan teriakan khas Toraja.

Di akhir Misa, ketua panitia dan Pastor Paroki PKKC Romo Agustinus Suyatno turut menyampaikan sambutan. Setelah Misa, umat mengikuti ramah tamah dan menikmati beragam snack dan kopi khas Toraja.

Continue Reading

End of content

No more pages to load